tentang hujan yang turun di kampus ipb

12 tahun silam, kedatangan awal saya ke kampus ini. Ditengah kegagalan kuliah disebuah kampus prestisius di bilangan depok, saya diajak menyebrang ke kampus ini. Tahukah Kawan, diantara selipan cita-cita, saya (pernah)memimpikan jadi seorang petani yang sukses, tapi sungguh, kampus tua pertanian ini tak pernah terbayangkan di neuron otak saya.  Tapi, begitulah kenyataannya: 12 tahun silam, untuk yang pertama kali saya menginjak aspal IPB yang basah disiram hujan. Saat itu awal bulan september. Kamerad Wicak  yang berandil 100% atas keberadaan saya di sana, ia mendaftar kuliah dan saya lantas ikutan mendaftar juga tanpa restu orangtua. Inilah Kawan, yang boleh jadi kita sebut sebagai takdir.

Maka saya terheran-heran pada kampusnya yang berdiri beberapa lantai ke atas. Altar fakultas itu begitu luas. Ada danau luas dimana perpustakaannya menyilang melewati titian di atas danau. Ada teater taman disana. padahal saya kadung membayangkan sebuah kampung dan sebuah kesunyian demi melihat perjalanan yang begitu jauh dan jalan raya yang belum begitu ramai (ingat, saat itu bogor 12 tahun silam). Bahkan saya salah membayangkan bahwa Dramaga sebagai nama sebuah desa saya artikan sebagai Dermaga yang dekatnya banyak singgah kapal-kapal. Aih, begitu sepinya kampus ini didamba, padahal kabupaten kami masih satu lokasi, Kawan!

http://1.bp.blogspot.com/

danau LSI IPB

di dalam kampus pertanian tertua ini saya melihat hutan. saat itu hujan, dan sudah pukul 3 sore. di depan tertulis sebuah papan bertulis: Arboretrum. saya tiba-tiba jatuh cinta pada kampus ini. diantara hujan dan pepohanan menjulang tinggi bak kerapatan kanopi hutan hujan tropis saya merapal cinta saya, dan bergegas ingin menjadi mahasiswa-nya.

Cinta ini adalah cinta tak berkesudahan kamerad. 10 tahun dan saya sudah pernah berganti kartu mahasiswa dalam 2 fakultas berbeda dalam satu kampus yang sama: IPB.  hujannya masih sama. tapi agaknya sudah begitu sesak jalanan dengan sedan dan motor, kamerad. kontras saat dulu kita menembus hujan dengan suzuki A-100 2 tak melewati Arboretrum, terus ketikungan DAR fakultas kehutanan, menembus GOR dengan hanya satu-dua kendaraan berpapasan. Tentu masih ada yang sama. pepohonan yang tumbuh saat saya melewat jalan pintas dari fakultas teknologi pertanian ke arah graha widya wisuda masih ada hingga kini. Bahkan berubah sangat lebat dan gelap. Beberapa mahasiswa tahan banting saja yg berani lewat.

hujannya masih tetap hujan yang sama, yang kadang turun sepanjang malam dan membuat cucian baju untuk kuliah esok hari kadang tak bisa kering. Masih sama Kamerad.

Diantara bangunan yang makin rapat dan tempat usaha yg berserak-serak , saya tentu tak lupa kamar sempit dimana dulu pernah menyewa. Tapi yang mana? 

 

Kompas.Com

Kamerad.
Puisi-puisi apak kita saat kuliah dulu dan hasil merenung di Kamar Dekan Bara 2, ada yang ikut ambil bagian dalam reportase Kompas.Com :
 http://oase.kompas.com/read/xml/2009/11/…

re: sudah generasi kedua

perkembangan (lebar tubuh) dan kemajuan (perut) saya rupanya diamati juga oleh rekan Hatta.

sekadar menimba kenangan, nih dia bukti-bukti aksi pemancingan di rumah calon mertua (padahal waktu itu sama sekali tidak tahu kalo dalam beberapa tahun rumah dgn kolam ikan itu akan jadi saksi pernikahan saya dan Hes).

Ciapus 1999

Sudah Generasi Kedua

Wicak Hidayat. Rekan saya yang dari tahun ke tahun grafik berat badannya linear dalam gradien positif (baca: naik terus ke atas), menyambangi saya di Bogor. Bukan menyambangi tepatnya, karena toh, Hesti (istrinya) juga warga Bogor dan Ibunya masih tinggal juga di Bogor. Yah, apapun itu, akhirnya kami sepakat bertemu.
Sudah lama sekali rasanya, padahal rumah kami di depok hanya dipisahkan oleh sekat RW saja…

Pertemuan ini berkesan spesial, karena dia sudah menggendong anak ke-2. Dan saya masih dengan Abyan yang usianya sepadan dengan putri pertamanya: Salma.
Di tempat kita berdiri, dekat stasiun Bogor yang ramai tapi kuno itu, rasanya waktu berputar begitu cepat.
Rasanya baru kemarin, tapi sudah 11 tahun dari pertama kali dulu saya dan wicak datang ke kota ini untuk menimba ilmu (kenangan?).
Rasanya baru kemarin, saya, wicak, beramai-ramai jalan dengan beberapa teman sambil asyik wisata mancing di rumah rekan sekampus di bilangan Ciapus. Mana tau, dikemudian hari Ciapus dan kolam ikan itu jadi saksi pernikahan wicak karena akhirnya dia menikah dengan si pemilik kolam.. :D
Sudah generasi kedua.
dan bogor bukan cuma punya warung pecel lela kaki lima dalam tenda, tapi juga warung pecel lele dalam ruko bagus dan bersaus special… hehehe

Ketika Nietzsche Menangis

Dear Kamerad,

Sebuah film independen, tak berapa lama berselang sempat aku saksikan. Judulnya: When Nietzsche Wept (WNW). Tentu kau bisa tebak, apa yang membuatku tertarik dengan film itu.

Film tokoh seperti ini, meskipun dalam hal ini yang kusaksikan adalah fiksi, selalu punya potensi untuk menarik. Paling tidak film macam ini bisa membuka mata pada kemungkinan seperti apakah kehidupan sang tokoh sebagai manusia biasa?

WNW menampilkan setting fiktif ketika filsuf apak favorit kita itu bertemu dengan Josef Breuer, dokter yang sempat menerapkan psikoanalisis ala Freud dalam prakteknya.

Ada lagi film genre ini –apa menyebutnya? biografi fiktif? fiksi sejarah? — yang sempat kusaksikan beberapa waktu lampau.  Judulnya I’m Not There dan kali ini yang dikisah adalah penyanyi/penyair Bob Dylan. Interpretasinya menarik! Dylan ditampilkan dalam enam karakter yang berbeda-beda, salah satunya wanita!

Atau untuk pendekatan yang lebih ‘konvensional’ tapi tak kalah dalam hal mutu adalah film-film seputar tokoh atau kejadian. Sekadar menyebut secara acak: Frost/Nixon, W., Notorious atau Man on the Moon.

Verflucht! Kenapa Indonesia tak bisa menghasilkan karya seperti itu? (atau tepatnya, belum)

Apakah karena tidak laku di pasaran?

Oke lah, beberapa yang patut disebut adalah Gie, Tjoet Njak Dhien atau Kartini. Film-film bagus yang berasal dari kisah tokoh-tokoh dengan signifikansi sejarah cukup besar.

Tapi masih banyak, sangat banyak, kisah tokoh yang bisa diangkat ke layar lebar (maupun novel).

Beberapa yang mungkin menarik:

  • Binatang Jalang, sebuah kisah biografis Chairil Anwar di tengah pusaran konflik budaya
  • PISS! kisah grup musik Slank menanjak ke popularitas nasional namun ambruk ke jurang narkoba
  • Menolak Tunduk, sebuah mozaik biografis para aktivis mulai dari Tragedi Priok, kisah Widji Thukul hingga Munir
  • Lebih Hitam dari Hitam, biografi Iwan Simatupang dengan menampilkan kisah tokoh kita dari berbagai karyanya (terutama di Tegak Lurus dengan Langit)

Ada yang berminat bikin nggak ya?

Menjelang Usia itu : Wicak Hidayat

Rasanya baru kemarin, Bung
padahal sudah belasan tahun silam
kita merapal sesuatu yg entah apa; mungkin puisi mungkin tulisan tidak utuh tentang gadis yang duduk di pojokan kelas. saat itu, 14 tahun usia kita.

Kita makin mengenal abjad-abjad,
yang kalau di satukan, boleh jadi kita sebut itu sajak.
Kita dekati Sapardi, menulis - dan inginnya, se-dramatis dia. Tapi apa boleh dikata, cukup jadi sajak penuh baluran dan desak-desak diksi melankolik saja.
Saat itu, hampir dewasa usia kita, dan sedang gegap gempita mengejar dan bertanya-tanya : apa itu cinta?

Fase-fase terbaik jg pernah kita temukan
di sela-sela adonan tepung roti dan resep-resep pangan
diantara jadwal praktikum yg merantai kaki dalam sel laboratorium.
namun kita sempatkan, mencari Amir Hamzah, Asrul Sani dan Taufik Ismail di sela-sela diktat kuliah setebal 2 buku jari.

usia makin berlari Kamerad.
Jaman masih belum singgah sebagai stasiun terakhir
ku tahu, masih banyak rencana yg bergegas kau buat
diantara itu, aku masih mencuri dengar satu dua ada kau punya semangat.

Nun, pertemuan kecil makin susah di garap.
tapi ku ingat, angka dua lapan yg dulu ku sisip diatas meja belajar kita di bilangan bara dua.

: Selamat Ulang Tahun

Meracik Rempah, Bumbu Dapur dan Lauk Pauk dalam Sepiring Sajak

Apa ada tautan antara kapulaga, jahe, kunyit, lengkuas, tepung kanji, tahu-tempe, ikan belida, ikan baung dan sambal tempoyak dalam sebuah sajak? Setidaknya pertanyaan itu begitu lugas dijawab dalam Sajak-sajak Ags Arya Dipayana pada Kolom Seni di harian Kompas edisi 19 April 2009.
Sajak-sajak Ags Arya begitu seru saya baca. Disana-sini saya temui nama-nama rempah dan bumbu dapur bersahutan dengan diksi penuh tenaga sebuah sajak. Sungguh, jika Anda membaca judul sajaknya, tentu Anda bingung, apakah Ags Arya tengah menyajikan tulisan sebuah reportase icip-icip makanan yang tengah jadi tren acara stasiun TV saat ini atau sebuah sajak bernas? Tengok saja salah satu judulnya: Menu Rumah Makan Seafood atau Gulai Balak Tengah Kau Siapkan.

Saya pribadi sudah beberapa kali menemui sajak Ags Arya. Namun yang begitu segar merangsang untuk dibaca, ya Sajak-sajak berbau bumbu dapur seperti ini. Ags Arya sendiri biasa menulis sajak dalam larik-larik serius (silahkan lihat laman: http://sehinggakabut.blogspot.com/ ). Selain sebagai penulis Sajak, penyair, pembaca puisi, Ags Arya dikenal publik sebagai sutradara Teater Tetas di Jakarta. Terakhir saya melihatnya baca puisi dan menjadi sutradara, adalah saat Musikalisasi Puisi Sapardi oleh Ari-Reda di bilangan TIM Jakarta sekian bulan silam.

Awalnya saya gamang, apakah Sajak (dengan menggunakan persona dapur) tersebut bisa berhasil -dalam arti hubungan antara rima dan isinya dapat bermuatan atau tidak. Tapi membaca larik pertama dari sajak berjudul Menu Rumah Makan Seafood, rasa gamang itu berubah menjadi takjub. Coba simak isi sajak tersebut:
Gurame Asam Manis/ Bersihkan ikan dan buang isi perutnya/ Lumuri dengan campuran tepung kanji dan garam/ Goreng dalam minyak sepanas hatimu yang marah itu/ Angkat bila matang/ Siapkan saus; matangkan tomat dalam rindu yang mendidih/ Lumatkan dan saring/ Ampasnya tak berguna.

Luar biasa.  Ags Arya memperluas spektrum sajak yang biasanya disisip oleh frase-frase berbau melankolik, gegap gempita, romatika yang ritmis atau frase-frase gelap seperti dalam sajak Afrizal Malna, kedalam frase berisi diksi masakan, yang disisip di situ sebuah isi pertautan penting antara masa lalu dan masa kini.

Lebih jauh, saya lamat-lamat menikmati puisi berjudul Gulai Balak, Tengah Kau Siapkan.  Puisi ini memulai dirinya dalam bagian pertama yang lambat. Tentang kegelisahan, tentang pergiliran waktu:  tentang menunggu. Lantas bagian kedua mengalir sedikit cepat. Tamsil tentang usia dibicarakan, juga tentang harapan yang memabukkan.

Nah, bagian ketiga ini yang membungkam. Isinya mengisyaratkan tentang kerumitan hubungan antara sesuatu yang asing. Sesuatu yang tidak akan menjadi apa-apa dan tetap tinggal sebagai sebuah tanda tanpa ke-reaktif-an zat yang lain (bisa saja berwujud pribadi manusia).  Aksiomanya membuat saya memejam : Tapi tanpa api/segalanya tidak akan menjelma arti.                                                                                                                                                                                             Ditutup oleh larik yang berhasil, yang mengagetkan. Yang menegaskan kikuk seorang penikmat masa lalu yang tak juga usang : Malam masih akan panjang/kusiapkan sajian untuk delapan orang/Nikmatilah. Sendirian..

pabrikan siana

konon, orang pabrik sony ericsson nggak boleh komentar soal tindak-tanduk pabrik nokia.

sayangnya posisiku bagai orang yang kerja di pabrik sony ericsson, sementara yang kau bicarakan adalah tingkah-polah pabrik nokia.

sulit bung! untuk berkomentar terlalu panjang.

satu hal sih, agaknya masing-masing pabrikan ini memang punya gaya celotehan yang berbeda. dan meskipun di lini yang berbeda (katakanlah, antara E Series dan N Series) ada patron bahasa yang berbeda pula, tetap ada upaya mempertahankan ciri pabrikannya.

itu mungkin yang mendasari teman-teman di sana ketat dalam hal pendaftaran.

sedangkan di pabrikan sini. memang dari awal mengadopsi kultur bahasa yang terbuka dan cenderung bebas. oleh karena itu terbukalah pendaftaran bagi partisipasi khalayak luas.

ah! agak gagap aku bicara dalam metafora!

Laman Kompas versus Kompasiana

Dear Kamerad,

Sedikit berwacana diantara gerimis yang rintik di senja ini.

 Kompasiana.com (tempat para wartawan Kompas nge-blog) adalah dua sisi yang menarik dibahas.
Coba bandingkan: bagaimana berita dalam Kompas.com ditulis dan -pada saat sesudahnya, coba bandingkan tulisan yang sama yang dibuat oleh penulis yang sama, tampil di Kompasiana.com.
Boleh jadi berita yang sama yang diturunkan, namun, buat saya, berita di Kompasiana.com jadi enak dibaca dan lebih seru.

Tadinya saya menolak kehadiran Kompasiana.com dengan alasan, kok ya sudah wartawan menulis di Kompas.com, harusnya kasih kebebasan juga buat blogger2/penulis2 lain yang mampir di Kompasiana.com.
Semacam Blogdetik lah.. dimana siapa saja boleh membuat akun dan berperan jadi penulis,atau sastrawan asal, atau filsuf bau apak.
Tapi nyatanya, dikemudian hari saya bisa menerima alasan: bahwa untuk menjadikan blog lebih mudah ditata dan lebih mudah di kelola, harus lah penulis2 tersebut sudah ter-’registrasi’ oleh persyaratan Kompas.

Beberapa wartawan yang saya kenal karena beritanya sering saya baca di harian Kompas, coba-coba saya baca beritanya di Kompasiana.com.
Pepih Nugraha, Arbain Rambey, Amir Sodikin, Budiarto Sambazy, untuk sekadar menyebut nama pewarta itu, punya tulisan yang asyik dan menggelitik di Kompasiana.
Terlepas bahwa mereka juga menulis apa yg menjadi spesialisasi mereka, tapi terus terang, gaya menulis itu jauh berbeda seperti gaya menulis di Harian Kompas atau Kompas.com : lebih bernas dan bertenaga.

Gaya menulis kau pun sebenarnya menarik buat saya, Bung..
Gaya yang straight to the point namun sedikit berputar di remeh-temeh yang seru! Coba kau ingat-ingat saat menulis laporan hasil praktikum di Laboratorium PAU tentang Es Krim , kau sedikit menyisip puisi Chairil Anwar disana. Hahaha..

Salam,
MH

(mantan) penulis lepas di buku hijau SMA kelas 2, buatan PT. Sinar Dunia.

Dunia Sukab

Dua kali buku ini saya beli. Kemudian hilang.

yang pertama beli di Gramedia. hilang tanpa bekas di laci kantor.

yang kedua, bertarung di lantai 4 proyek senen nemuin ini buku. Dapet. Lantas hilang tanpa jejak gigitan rayap sekalipun.

ah. Sukab. Ternyata bukan cuma saya yang jatuh hati pada eks pemain bola absurd ini!